on a sunny Sunday in August
Hari minggu seperti biasa, hari latiannya angklung. Karena mau rekaman, jadi kali ini latiannya ga di Konsulat RI, tapi di rumah Irfan sama Ichsan. Mia ga tau rumah mereka dimana. Singkat cerita, Mia janjian dengan yang lain ketemu di Hauptbahnhof*. Singkat cerita pula, karena hal-hal yg membuat keringat sedikit tercucurkan, Mia telat sampai di hauptbahnhof, jadi ga bisa bareng-bareng dengan yang lain ke rumah Irfan dan Ichsan nya.
Tapi Mas Prio, pelatih angklung kita, berbaik hati buat menghubungi Mia, dan kasih tau cara buat ke rumah mereka.
on the telephone
Mas Prio : “Nanti pake kereta S3, yang richtung** Neugraben, nanti turun di Neuwiedenhalt.”
Mia : “oke Mas….”
few minutes later
Tiba-tiba Mia blank, bener-bener ga inget tadi Mas Prio bilang apa. Tepat seperti nama station yang Mia tulis sebelumnya, Neuwiedenhalt, Mia cuma bisa inget 3 huruf pertama, yaitu “Neu…..”. Instead of calling mas Prio again, I went on to the train. Sambil berharap station-station yang dilewatin sama kereta nanti emang ada yang punya 3 huruf depan “Neu…” dan cuma SATU (Yaaa, I know, What a stupid thought). Naiklah Mia ke kereta S3 tadi. Trus Mia liat station-station yang dilewatin sama kereta ini, dan kurang lebih tertulis seperti ini :
Hauptbahnhof
.
.
Neuwiedenhalt
Neugraben
.
Neuxxxxxx
.
Neuxxxxxx
.
.
self-whispering
“oh my God!!!”
ada 3 saudara-saudara!! Tapi belum panik sih saat itu, kan masih bisa telfon Mas Prio, buat nanya lagi nama stationnya apa. Sayangnya ke-reject sama mas Prionya, jadi belum keangkat, trus Mas Prio telfon balik. Baru keluar satu dua patah kata, …
EMPTY BATTERY!!!!!
NICE………………..
“I was already on the train, didn’t know where to get off, and now it’s off!!” I was mumbling (dalam hati tentunya).
Yahh, sudahlah.. akhirnya mikir, Mia bisa cek di tiap station lewat jendela kereta, ada yang nungguin ato ngga. Klo ada, get off!!
Selama di kereta Mia coba beberapa kali nyalain lagi Handphone, sapa tau masih bisa jalan
. And It worked. But no more than 1 minute. Mas Prio udah berkali-kali nelfon, tapi handphone udah langsung mati baru dua kali dering juga. hehe.. (Pasti mas Prio bingung musti gimana ngasitau cara ke rumah Irfan setelah sampe di Haltestelle Neuwiedenhalt). Sama seperti saya yang bingung musti kemana. hehe…
Sampailah di “Neu…” yang pertama, yaitu Neuwiedenhalt.
Lirik-lirik jendela, ga ada orang yang nungguin dan Mia kenal. “Means – I shouldn’t have to get off”, I was humming again.
Begitu kereta jalan, dari jendela sekarang terlihat jelas klo kereta sedang melewati sosok Mas Prio, yang ekspresi mukanya kurang lebih kaya “abis ngangkut angklung dari konsulat, nungguin anak satu yg udah lebih dari 15 menit ditungguin tapi ga nongol-nongol, dan rekaman udah harus mulai”, jadi…ekspresinya tidak terlalu ceria. Akhirnya mia turun di haltestelle berikutnya. Trus buru-buru balik arah, dan berharap nanti mas Prio masih ada di sana, nungguin. Butuh waktu 10 menit kurang lebih, buat balik lagi ke tempat yang dituju tadi. Fiuh…
Begitu sampe…
Mas Prio nya udah ga ada. hehehe…
and I was in the middle of nowhere.
Ntah knapa, yang ada di pikiran cuma cari toilet, bukan karena Mia kebelet, tapi berharap ada saklar di toilet, buat nge charge handphone
(another weird thought).
Tadinya udah mau nyerah dan pulang aja, tapi tiba-tiba liat ada sosok dikenal, hehe..
Sami…
fiuhhhh……. SAVED.
Sami nganter deh ke rumahnya Irfan. I felt sorry towards Mas prio, for waiting me quiet long, maaf yah Mas
.
Hari ini dipenuhi dengan pikiran-pikiran tidak logis dan aneh.
Moral of the story : jangan pernah nginget nama station cm dari 3 huruf depannya, dan Charge battery handphone sebelum berpergian
*Hauptbahnhof (station)
*Richtung (tujuan)