Happy Eid Mubarak 1430H

Minal aidin wal faidzin

Mohon maaf  lahir batin

Slamat Idul Fitri 1430H

Ramadhan dan lebaran pertama gak di rumah.

Memori masa kecil di waktu2 Ramadhan dan lebaran, sering banget denger lagu-lagunya Sam Bimbo di TV dan Radio.

Jadi kangen..

Berharap dpt suasana yg sama *walopun tetep gak terganti* , cari-cari deh lagu-lagunya.

Ternyata ada remake lagu rindu rasul yang terbaru, enaak.

Klo diliat2, liriknya sederhana, mudah dimengerti, tapi mengena..

Lagu untuk semua umur dan kalangan. heheh

Published in:  on September 21, 2009 at 2:13 pm Comments (1)

Songs of September

1# My first goes to this very beautiful duet song, EVER!! :)
Glen Hansard & Marketa Irglova – Falling slowly (OST Once)

If anyone ask me, best romance movie I’ve ever watched. As for me, they would be : ONCE, BEFORE SUNRISE, and JUNO.
Do not expect any scenes such fancy/romantic surprise nor any other romantic stuff. You won’t get them in there.
Things in common between the three were how I love the cast and their simple story, but still left me this much impression. hehehe…
They’re superb!!
Without any those so-called-romance and any other couple common stuff, these movies were just impressed me in some way. Maybe some of their lines.
2# Second one…
Hans Zimmer – Gumption (OST The Holiday)

Yang menemani Mia buat nyelesein novel Eat Pray Love. Hhahaha…Gatau knapa brasa pas antara backsound sama bukunya. Berasa nonton film…
Akhirnya after all these months, rebes juga bacanya. hoho..
Eat pray love

Eat pray love

alasan knapa lambat bacanya :p

alasan knapa lambat bacanya :p

hehe..dalam rangka skalian belajar, sambil baca sambil stabilo-in vocab yg ga pernah tau artinya. Makanya bacanya lambreto.

Published in:  on September 17, 2009 at 11:15 pm Comments (1)

Melihat lebih jauh – a good read

Berawal dari blogwalking tentang Lomography, nyampe-nyampe ke blognya Dian Sastro, dan berujung pada liat tulisan di bawah dari blog ini.

Sangat inspiratif.

Tiba-tiba inget betapa dangkal dulu pikiran saya, yang emoh cari kerjaan yang ‘monoton’. Sama skali lupa, apa itu ‘pekerjaan’ secara literally. Lupa klo ‘pekerjaan’ itu bukan cuma teknis, tapi juga pake hati. Dan ya, saya belajar melihat lebih jauh, tentang sgala hal.

Berawal dari LOMO, nyampe2 ke tulisan ini. Inspirasi memang kadang datang tak diundang dan tiba-tiba. hehe..

Melihat lebih jauh

oleh: Herry Tjahjono

Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh. Setelah bertanya ke sana-kemari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi. Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman. Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz. Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.

Kisah lain. Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja ”hanya” sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh- sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya. Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu. Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu.

Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekadar door checker. Beberapa pelajaran Christopher L Jr dan Mr Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis ”manusia besar atau manusia berlebih” (great people) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian ”rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.

Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak. Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman good. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great. Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk ”melihat lebih”! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door checker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job! Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu ”memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim. Rindu pemimpin besar Betapa bangsa ini rindu seorang pemimpin hasil pemilu yang layak disebut pemimpin besar, great leader. Mereka yang kini sedang giat berkompetisi dan perang iklan dengan saling sorot KPI masing-masing. Perhatikan dengan saksama, maka segenap janji kampanye, termasuk realisasinya, konteksnya masih sebatas pemenuhan KPI. Ini berlaku baik bagi yang masih berkuasa maupun mantan dan juga calon yang baru. Semua bicara tentang KPI kepemimpinan, belum menyentuh KVI kepemimpinan. Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi ”KPI kehidupan” kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materiil, dan mudah diukur. Padahal, untuk menjadi great people, great leader, great father, great manager, dan seterusnya, lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan ”KVI kehidupan” kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christoper L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya tak kalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita ”mau” melihat lebih jauh, kita akan ”mampu” melangkah lebih jauh.

Herry Tjahjono

Corporate Culture Therapist & President The XO Way, Jakarta

P.S: saya juga punya tulisan menarik yang berhubungan dengan artikel ini di http://yalun.wordpress.com/2009/04/26/melihat-lebih-dalam-fenomena-susan-boyle/

Sumber : http://yalun.wordpress.com/2009/02/14/melihat-lebih-jauh/

Published in:  on at 1:21 am Leave a Comment

Self revelation

#1 I eat too much chips ever since I got here. I got 5 kilos up in weight.

#2 I’ve seen too many drama series back then

#3 I sometimes feel annoyed by companion and feel better to stay alone. (Autism syndrome ?)

#4 I’ve wasted too much time by surfing

#5 I guess I recently put my self onto less hoping state.

#6 So these might be the excuses for that: Less to hope, less to be hoped, less to disappoint, less to be disappointed, less to have, less to lose.

#7 Me being lazy is much often than me being diligent.

#8 I already forgot how to deal with ‘that’ stuff. I have no idea how to start, how to make and so on.

#9 I missed Sahur time for 9 times until now.

#10 I often stay up until dawn.

#11 I’ve spent lots of money here.

#12 I sometimes forget to save some.

#13 I’m afraid of being single but afraid even more of being a couple.

#14 Just realized that I’ve done so many excuses for my owns sake back then.

#15 I am now too much in self attention.

#16 I broke my cousin’s finest pullover.

#17 Words I regret the most of missing them out lately: ‘and yours?’

#18 I was a mean girl some time ago.

I wish I can change later on, in whichever part that I should.

Alhamdulillaah bentar lag Idul Fitri..

Smoga disucikan kembali…

Yeay, 6 days left.

:)

Published in:  on September 15, 2009 at 3:19 pm Leave a Comment